- Home >
- KA'BAH DAHULU DAN SEKARANG
Posted by : Unknown
Senin, 10 Maret 2014
CERITA PEMBANGUNAN KA'BAH
Ketika Rasulullah berusia tiga puluh lima tahun,
beliau belum diangkat oleh Allah sebagai seorang Nabi. Waktu itu kota Makkah
dilanda banjir besar yang meluap sampai ke Masjidil Haram. Orang-orang Quraisy
menjadi khawatir banjir ini akan dapat meruntuhkan Ka’bah yang dulunya tak
beratap dan tinggi ka'bah hanya sembilan hasta ini dikhawatirkan orang jahil
akan memanjatnya dan mencuri barang-barang berharga yang ada di dalamnya.
Untuk mencegah orang niat tidak baik itu, oleh karena
itu bangsa Quraisy bersepakat untuk memperbaiki bangunan Ka’bah tersebut dengan
terlebih dahulu merobohkannya.
Untuk perbaikan Ka’bah ini, orang-orang Quraisy hanya
menggunakan harta yang baik-baik saja. Mereka tidak menerima harta dari hasil
melacur, riba dan hasil perampasan.
Di awal-awal perbaikan, pada awalnya mereka masih
takut untuk merobohkan Ka’bah. Akhirnya salah seorang dari mereka yang bernama
Al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumy bangkit mengawali perobohan tersebut.
Setelah melihat tidak ada hal buruk yang terjadi pada Al-Walid, orang-orang
Quraisy pun mulai ikut merobohkan Ka’bah sampai ke bagian rukun Ibrahim.
Mereka kemudian membagi sudut-sudut Ka’bah dan
mengkhususkan setiap kabilah dengan bagian-bagiannya sendiri. Pembangunan
kembali Ka’bah ini dipimpin oleh seorang arsitek dari bangsa Romawi yang
bernama Baqum.
Rasulullah ikut Membangun
Rasulullah sendiri ikut bersama-sama yang lain membangun Ka'bah. Beliau bergabung bersama paman beliau Abbas Radhiyallahu ‘Anhu. Ketika beliau mengambil batu-batu, Abbas menyarankan kepada beliau untuk mengangkat jubah beliau hingga di atas lutut. Namun Allah menakdirkan agar aurat beliau senantiasa tertutup, sehingga belum sempat beliau mengangkat jubahnya, beliau jatuh terjerembab ke tanah.
Rasulullah sendiri ikut bersama-sama yang lain membangun Ka'bah. Beliau bergabung bersama paman beliau Abbas Radhiyallahu ‘Anhu. Ketika beliau mengambil batu-batu, Abbas menyarankan kepada beliau untuk mengangkat jubah beliau hingga di atas lutut. Namun Allah menakdirkan agar aurat beliau senantiasa tertutup, sehingga belum sempat beliau mengangkat jubahnya, beliau jatuh terjerembab ke tanah.
Beliau kemudian memandang ke atas langit sambil
berkata, “Ini gara-gara jubahku, ini gara-gara jubahku”. Setelah itu aurat
beliau tidaklah pernah terlihat lagi.
Peletakan Hajar Aswad
Sebelum kita lanjutkan kisah ini, tahukah kalian apa itu hajar aswad?
Peletakan Hajar Aswad
Sebelum kita lanjutkan kisah ini, tahukah kalian apa itu hajar aswad?
Hajar Aswad adalah sebuah batu yang diturunkan oleh
Allah subhanahu wa ta’ala dari surga. Dulu batu itu berwarna putih, namun
karena dosa-dosa anak Adam, maka batu itu pun berubah menjadi berwarna hitam.
Nah, ketika pembangunan sudah sampai ke bagian Hajar
Aswad, bangsa Quraisy berselisih tentang siapa yang mendapatkan kehormatan
untuk meletakkan Hajar Aswad ke tempatnya semula. Mereka berselisih sampai
empat atau lima hari. Perselisihan ini bahkan hampir menyebabkan pertumpahan
darah.
Abu Umayyah bin Al-Mughirah Al-Makhzumi kemudian
memberikan saran kepada mereka agar menyerahkan keputusan kepada orang yang
pertama kali lewat pintu masjid. Bangsa Quraisy pun menyetujui ide ini.
Allah subhanahu wa ta’ala kemudian menakdirkan bahwa
orang yang pertama kali lewat pintu masjid adalah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam. Orang-orang Quraisy pun ridha dengan diri beliau sebagai
penentu keputusan dalam permasalahan tersebut.
Rasulullah pun kemudian menyarankan suatu jalan keluar
yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh mereka. Bagaimana jalan keluarnya?
Beliau mengambil selembar selendang. Kemudian Hajar
Aswad itu diletakkan di tengah-tengan selendang tersebut. Beliau lalu meminta
seluruh pemuka kabilah yang berselisih untuk memegang ujung-ujung selendang
itu. Mereka kemudian mengangkat Hajar Aswad itu bersama-sama. Setelah mendekati
tempatnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam-lah yang kemudian meletakkan
Hajar Aswad tersebut.
Ini merupakan jalan keluar yang terbaik. Seluruh
kabilah setuju dan meridhai jalan keluar ini. Mereka pun tidak jadi saling
menumpahkan darah.
Akhir Pembangunan Ka’bah
Bangsa Quraisy akhirnya kehabisan dana dari penghasilan baik-baik yang mereka kumpulkan. Mereka akhirnya menyisakan bangunan Ka’bah di bagian utara seukuran enam hasta yang kemudian disebut Al-Hijir atau Al-Hathim.
Akhir Pembangunan Ka’bah
Bangsa Quraisy akhirnya kehabisan dana dari penghasilan baik-baik yang mereka kumpulkan. Mereka akhirnya menyisakan bangunan Ka’bah di bagian utara seukuran enam hasta yang kemudian disebut Al-Hijir atau Al-Hathim.
Mereka juga membuat pintu Ka’bah lebih tinggi daripada
permukaan tanah. Setelah bangunan Ka’bah mencapai ketinggian lima belas hasta,
mereka memasang atap dengan disangga enam sendi.
Ka’bah pun selesai dibangun kembali. Tingginya
sekarang lima belas meter, panjang sisinya di bagian Hajar Aswad dan sebaliknya
adalah sepuluh meter. Hajar aswad sendiri diletakkan satu setengah meter dari
lantai. Adapun sisi yang lain panjangnya dua belas meter. Pintu Ka’bah
diletakkan dua meter dari permukaan tanah. (*)
Mari berkunjung dan beribadah Umroh ke Baitullah
Ka'bah, Mekkah.
Pengalaman beribadah akan semakin sempurna karena VOA
ISLAM hanya menjalankan prosesi ibadah yang sahih-sahih saja.
Apa saja tuntunan ibadah haji dan umroh yang sahih? berikut beberapa petunjuk sesuai Sunnah Nabi Muhammad SAW, yaitu :
1. Miqat ditempatnya sesuai sunnah
2. Tarwiyah di Mina
3. Wuquf, meninggalkan Arafah setelah matahari terbenam
4. Mabit di Mudzdalifah dan bertolak darinya sebelum matahari terbit
5. Thawaful Ifadah pada waktunya
6. Mabit di Mina pada hari-hari tasyrik
7. Thawaful Wadaa’ pada waktunya
Insya Allah dengan mengikuti aturan dan urutan sesuai sunnah Nabi Muhammad akan membuat ibadah dapat meraih Haji dan Umroh yang mabrur dan diterima oleh Allah Subhanahu Wa ta'ala...
Tentu dengan syarat yang tak kalah utama adalah kita ikhlaskan semua ibadah hanya untuk mengharap ridho dan ampunan Allah semata
Apa saja tuntunan ibadah haji dan umroh yang sahih? berikut beberapa petunjuk sesuai Sunnah Nabi Muhammad SAW, yaitu :
1. Miqat ditempatnya sesuai sunnah
2. Tarwiyah di Mina
3. Wuquf, meninggalkan Arafah setelah matahari terbenam
4. Mabit di Mudzdalifah dan bertolak darinya sebelum matahari terbit
5. Thawaful Ifadah pada waktunya
6. Mabit di Mina pada hari-hari tasyrik
7. Thawaful Wadaa’ pada waktunya
Insya Allah dengan mengikuti aturan dan urutan sesuai sunnah Nabi Muhammad akan membuat ibadah dapat meraih Haji dan Umroh yang mabrur dan diterima oleh Allah Subhanahu Wa ta'ala...
Tentu dengan syarat yang tak kalah utama adalah kita ikhlaskan semua ibadah hanya untuk mengharap ridho dan ampunan Allah semata
GAMBAR KA"BAH TERDAHULU
SUMBER MATA AIR ZAM-ZAM
KABAH SEKARANG
SUMBER MATA AIR ZAM-ZAM SEKARANG












Posting Komentar